Catatan Seorang MARU

Enah mengapa mala mini aku mendadak melankolis
Ketika lampu jalan telah menyala untuk menerangi kehidupan dan ketika daya lampu itu harus hilang karena kebobrokan rezim yang akan segera berganti.  Ketika satu persatu kebobrokan itu mulai terungkap, institusi-institusi pengorek kebenaran pun kian kehilangan kredibilitasnya. Sudah saatnya generasi baru memberantas kekacauan yang disebabkan oleh generasi tua yang nyata-nyata telah merusak suatu system. Tidak ada namanya kebenaran absolid di dalam pandangan manusia. Mungkin sekarang masyarakat masih memuja dan menjujung tinggi yang namanya demokrasi. Iya demokrasi yang katanya memberikan kebebasan seluas-luasnya untuk berpendapat di dalam forum atau pun di depan umum. Yang berkuasa sekarang adalah mereka yang dibesarkan di masa kediktaktoran dan demorkrasi yang memotong lidah. Mereka yang sekarang masih mencoba untuk membungkam kebenaran. Padahal hanya pada kebenaran kita dapat berharap. Mungkin dijaman sekarang kebenaran hanya ada di langit.
Suatu masa ada saatnya berakhir dan di tahun ini suatu kekuasaan akan dipindah tangankan. Kami rakyat kecil hanya dapat berharap mendapatkan pengganti yang bisa benar-benar amanah. Bukan pengganti yang akan menciptakan chaos. Tidak semua kepala di tanah air ini mendukung pemimpin terpilih. Di satu sisi gerakan oposisi mulai menyusun kekuatan untuk menyiapkan dan mengumpulkan fakta-fakta untuk melengserkan rezim yang secara resmi belum dilantik.
Rezim yang akan berkuasa sepertinya bukan rezim demokratis karena ada seorang yang ada dibelakang layar yang menyetiri tingkah laku dan dalam penetapan kebijakan yang akan ditetapkan. Jadi apa namanya tata Negara yang akan berlangsung di Negara yang katanya gemah ripah lohjinawi ini kelak. Kekuasaan di atas kekuasaan
Kami hanya rakyat kecil yang bias menonton dan menjalankan kebijakan yang diambil oleh penguasa. Mungkin iya kami bisa mengutarakan apa yang ada di setiap gundul kami masing-masing. Tapi apakah boleh esok keika kami mengutarakan kebenarang di otak kami kelak.

Kapasitas saya disini bukan sebagai simpatisan atau pun relawan mantan calon penguasa yang tidak jadi naik tahta dan masih mencoba menempuh cara dan menyeret semua kecurangan menurut mereka yang terjadi di dalam pengambilan pendapat yang masih sarat akan manipulasi. Menjadi manusia yang ikhlas pun aku belum bisa apa lagi menjadi relawan yang harus rela. Mungkin rela tidak di”anu”. Omong kosong dengan relawan yang ikhlas yang benar-benar rela menyetorkan waktu dan tenaganya. Mereka tidak terima menggunakan lembaga yang saat itu kehilangan martabat dan kredibilitasnya karena lembaga yang tadinya dicap sebagai lembaga independen tapi dalam kenyataannya memihak suatu sisi dalam pengambilan keputusan.

Komentar